
Peter Thiel menulis buku Zero To One berdasarkan pengalamannya mendirikan maupun berinvestasi pada ratusan perusahaan rintisan. Sebagai pendiri PayPal, perusahaan platform pembayaran berbasis email yang pertama tahun 1999 serta ivestasinya yang sukses di berbagai usaha rintisan, Thiel punya resep untuk “menerawang” apakah usaha rintisan akan sukses atau gagal.
PayPal adalah salah satu kisah suksesnya, didirikan akhir 1999, go public tahun 2001 saat perusahaan masih merugi; kemudian tahun 2002 eBay meminangnya dengan harga $ AS 1,5 milyar. Di PayPal, Thiel dan para sohibnya dijuluki sebagai Mafia PayPal, karena kiprah mereka yang menjadi penguasa jagad teknologi.
Sohib Thiel di PayPal adalah Elon Musk, pendiri Tesla & SpaceX. Sohibnya yang lain adalah Reid Hoffman, pendiri LinkedIn; kemudian ada Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim yang bersama-sama meluncurkan YouTube. Satu lagi, Thiel adalah salah satu investor pertama juga di Facebook.
Kini saatnya kita simak nasihat Thiel mengenai usaha rintisan yang berpeluang menjadi Facebook “berikutnya”. Tapi yang akan saya kutip justeru pantangannya yang bisa kita simak dengan mudah. Pertama, menurut Thiel waspadalah pada CEO usaha rintisan yang menetapkan gaji tinggi, tidak peduli apa pun alasannya. Menurut Thiel politikuslah yang biasanya menuntut gaji tinggi. Dan mereka yang menuntut gaji tinggi biasanya akan menjaga status quo, tidak mau mengambil risiko untuk berinovasi. Tidak cocok untuk usaha rintisan.
Kedua, menurut Thiel, langsung coret saja usaha rintisan yang CEO-nya berbusana sangat formal dengan jas & dasi saat bertemu dengan calon investor. Aturan “tidak tertulis” busana orang-orang teknologi adalah kasual dengan t-shirt & jins. Lihatlah Mark Zuckerberg, Elon Musk, Jack Dorsey, atau Steve Jobs. Mereka yang berdasi, masih menurut Thiel, biasanya tidak paham apa-apa soal teknologi…
