0274-549426 | ibnu@gamamulti.com

Direktur Utama

Gama Multi Group - Daerah Istimewa Yogyakarta Indonesia

#16 Mewujudkan Spirit Puasa di Tempat Kerja

Saat diminta memberikan tausyiah di anak perusahaan, saya menolak karena sadar kalau saya belum pantas. Tapi saya menyanggupi untuk sekadar berbagi pengalaman bagaimana kita memaknai ibadah puasa ini di tempat kerja. Kemudian saya menyampaikan ada 5 spirit dari ibadah puasa yang bisa kita transformasikan di tempat kerja.

Pertama, merujuk QS II: 183, bahwa puasa ini wajib hukumnya. Di tempat kerja kita juga akan menjumpai berbagai kewajiban dalam bentuk aturan, prosedur, atau ketentuan. Dan terhadap berbagai kewajiban ini tidak ada kata lain selain mematuhi. Agama mengajarkan ketika kita patuh pada kewajiban, maka kepatuhan itu akan mengantarkan pada ketakwaan dan keselamatan. Sebaliknya, meninggalkan kewajiban akan mengakibatkan kerusakan dan kebinasaan. Demikian juga di tempat kerja, melanggar aturan, prosedur, atau ketentuan, cepat atau lambat akan mengakibatkan kerusakan.

Kedua, ada sebuah hadits Qudsiy yang berbunyi: puasa itu untuk-Ku. Artinya hanya kita dan Allah swt yang mengetahui bagaimana kita menunaikan ibadah puasa; sedangkan orang lain tidak. Tetapi ketika kita bisa secara konsisten mematuhi aturan tanpa diawasi orang lain, maka kita memiliki integritas. Dan di tempat kerja, integritas mutlak diperlukan.

Ketiga, mengutip sabda Rasullulah bahwa sebagian orang yang berpuasa hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga. Artinya, selalu ada tampilan yang kasat mata, tetapi yang utama adalah hakikat yang tidak terlihat dari luar. Isu yang relevan di tempat kerja adalah membedakan antara “sibuk dan produktif” atau antara “berpengalaman dan kompeten”.

Keempat, dengan menahan lapar dan dahaga selama puasa, sesungguhnya kita sedang mengasah empati kita. Kita jadi bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya orang yang kelaparan dan kehausan. Dan ini adalah empati. Orang yang memiliki empati berarti memiliki kecerdasan emosional. Berbagai studi menunjukkan kalau sukses di organisasi lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional daripada kecerdasan intelektual.

Kelima, di setiap khotbah selalu diserukan supaya kita bersyukur karena masih diberi kesempatan berjumpa dengan ramadan tahun ini. Sehingga puasa juga melatih kita untuk selalu bersyukur. Kepada para karyawan di anak perusahaan yang bergerak di bidang alat kesehatan, herbal, dan makanan sehat; saya juga mengajak untuk senantiasa bersyukur. Bahwa mereka bisa melewati tahun ke-5 usahanya, alhamdulillah. Karena statistik menunjukkan hanya 10% usaha rintisan yang bisa melewati usia 5 tahun. Apalagi di usia ke-5, mereka sudah meraih 3 penghargaan di tingkat nasional: Alhamdulillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *