
Di anak perusahaan yang bergerak dalam bidang pengembangan aplikasi, saya banyak berinteraksi dengan para milenial yang memimpin perusahaan tsb. Interaksi ini sering menimbulkan perbedaan pendapat saat kami berdiskusi soal laporan keuangan. Misalnya saat membaca angka sales/revenue saya mementingkan pertumbuhan positif dan konsisten dibandingkan periode sebelumnya.
Tetapi menurut mereka tidak harus begitu. “Bisnis kita bukan perdagangan atau manufaktur, tapi pengembangan aplikasi. Pada fase pengembangan, revenue belum ada; tapi sudah muncul beban operasional.”
Pelajaran #1 pikir saya. Perbedaan berikutnya terjadi saat saya juga menekankan pentingnya laba usaha. Tapi ini pun dibantah. “Bahasa yang kita pakai adalah valuasi perusahaan bukan laba usaha,” ujar mereka pede.
“Tapi bagaimana mungkin perusahaan yang merugi bervaluasi tinggi? tanya saya.
“Mungkin saja, karena laba bukan lagi parameter yang menentukan valuasi, tetapi prospek bisnis di masa depanlah yang menentukan,” jelas mereka sambil mencontohkan perusahaan berbasis aplikasi yang merugi tapi bervaluasi tinggi.
Sampai di sini saya jadi teringat akan Warren Buffet yang mengakui kesalahannya karena menolak berinvestasi di perusahaan Microsoft, Google, & Amazon saat mereka masih menjadi usaha rintisan dengan alasan tidak bisa memahami model bisnis mereka. Mungkin sudah saatnya kita belajar kepada para milenial itu mengenai hal-hal yang mendasar: apa itu model bisnis, bagaimana mengukur kinerja dan menentukan valuasi perusahaan, dll.
