
Saya masih ingat momen percakapan dengan Bunga (bukan nama sebenarnya) perihal pengalaman kerja sebelumnya. Seperti milenial lainnya, Bunga bercerita dengan antusias dan dengan selipan bahasa Inggris di sana-sini, which is common.
“Secara saya masih unyu-unyu waktu itu, begitu lulus kuliah ikut seleksi dan langsung diterima, rasanya wow… So excited..,” kata Bunga mengawali ceritanya.
“Apa yang paling mengesankan selama bekerja?” tanya saya.
“Perhatian atasan,” jawab Bunga.
Ups, saya kaget dan penasaran mendengar jawaban Bunga.
“Ceritakan,” ujar saya pendek-pendek supaya tampak “berwibawa”, seperti gaya bicara Don Vito Corleone dalam The Godfather.
“Waktu itu saya dapat giliran lembur, lembur pertama kali, akhir pekan dan akhir bulan. Hanya 2 orang yang lembur di kantor saya. Kantor sudah sepi, sedangkan teman-teman main saya mengolok-olok saya yang tidak bisa ikutan mereka hang-out. Sedih rasanya, sampai mau menangis. Tiba-tiba atasan saya menghampiri dan menanyakan apa yang sedang saya kerjakan, apakah ada masalah, dan sebagai atasan beliau menawarkan bantuan. Saat itu juga mak jleb rasanya..,” ujar Bunga sambil matanya menerawang jauh.
Tapi menurut saya tidak hanya milenial yang akan merasa “mak jleb” kalau diberi perhatian, didengarkan, dan ditawari bantuan pada saat yang tepat. Artinya Dalil (1) bahwa milenial berbeda dengan generasi lainnya tidak terbukti. Hanya masih ada 1 hal yang membuat saya penasaran kalau dengan semua pengalaman kerja yang “wow” kenapa Bunga memutuskan meninggalkan pekerjaan yang baru dilakoni 2 tahun saja.
“Saya ingin tantangan baru…,” jawab Bunga dengan senyum sumringah dan mata bersinar. Sejenak saya coba menafsirkan makna “tantangan baru” dari Bunga… (bersambung).
