
Saya tidak menggunakan data statistik terkini untuk menuliskan judul di atas. Saya hanya menafsirkan dari meningkatnya permintaan dokumen Amdal di awal semester II/2019 di salah satu unit usaha kami. Tidak hanya jumlah permintaan dokumen Amdal yang meningkat, tetapi juga sektor usaha atau bidang kegiatannya juga beragam. Ada pembangunan hotel di kawasan bandara yang baru, pengembangan RSUD, pembangunan kawasan wisata di atas lahan seluas 250 ha, wahana permainan dengan konten digital, dll
Bahwa meningkatnya permintaan dokumen Amdal bisa diartikan kalau pelaku usaha tampaknya sudah yakin kalau semester ke-2 ini saatnya sudah kondusif untuk merealisasikan rencana investasi mereka. Sikap ‘wait & see’ tampaknya sudah lewat. Bahwa mereka memerlukan dokumen Amdal berarti proyek pembangunan atau pengembangan yang mereka lakukan bisa dikategorikan proyek menengah – besar.
Momentum ini perlu dijaga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ada baiknya juga pemerintah daerah mendengarkan dan memberikan solusi atas keluhan para pengusaha soal perijinan atau ancaman demo yang menghambat proses perijinan.
Sikap optimistis juga saya lihat dari jawaban seorang direktur RSUD ketika saya tanya apakah pendanaan investasinya 100% disediakan oleh pemerintah daerah. “Sebetulnya hanya 1/3 yang disediakan dari kebutuhan kami, selebihnya ya dari arus kas internal,” jawabnya. Ini artinya arus kas yang kuat dan optimisme bahwa investasinya akan mencapai sasaran yang dicanangkan.
