Ini adalah bahasan buku David Epstein, Range: How Generalists Triumph in a Specialised World. Tersirat dari judulnya kita sudah bisa menebak jawaban tanyaan dari judul di atas. Tapi mari kita ikuti ilustrasi dan logika penjelasannya.
Sebagai ilustrasi ditampilkan kehidupan 2 atlet juara dunia dari cabor berbeda: Tiger Woods dari golf dan Roger Federer dari tenis lapangan. Woods adalah contoh didikan seorang spesialis. Sejak umur 2 bulan ayah Woods sudah mengenalkannya dengan lapangan golf. Dan seterusnya, hanya golf yang diperkenalkan kepada Woods. Hingga pada umur 2 tahun, Woods sudah menjuarai “turnamen” golf untuk anak usia s/d 10 tahun. Umur 4 tahun ayah Woods biasa menurunkan anaknya di lapangan golf pagi hari dan baru dijemput lagi sorenya. Biasanya Woods akan membawa uang sebagai hasil kemenangan melawan pegolf lokal yang meremehkan kemampuannya.
Roger Federer adalah cerita yang lain sama sekali. Ibunya justru tidak mau mengajari Federer tenis lapangan. Federer oleh ibunya diarahkan kepada berbagai cabor mulai dari sepakbola, renang, ski, baseball, dan squash. Tapi akhirnya Federer menekuni tenis lapangan. Sekali pun demikian ambisi Federer cukup sederhana, bisa bermain di Wimbledon, tanpa target yang spesifik. Sebaliknya Woods sejak kecil sudah diindoktrinasi untuk memecahkan rekor juara dunia golf.
Pada umur 20-an baik Woods maupun Federer masing-masing mendominasi kejuaraan dunia golf dan tenis. Tapi akhir cerita ternyata sangat berbeda. Sampai dengan umur 30-an Federer masih berjaya sebagai juara dunia tenis lapangan. Sebaliknya Woods terjerumus dalam berbagai skandal yang menghancurkan rumahtangganya dan karir golfnya. Sempat vakum dari golf selama 5 tahun, Woods tampak terseok-seok berusaha kembali meraih gelar juara dunia golf. Kini dia berada di peringkat ke-23.
Sekarang logika penjelasannya. Menurut ilmuwan Arturo Casadevall kelemahan seorang spesialis adalah mereka cenderung menyelesaikan masalah dengan menggali “parit” lebih dalam, sekali pun solusi itu ada di parit sebelahnya. Di sini kelebihan seorang generalis yang juga menggali parit tapi sambil melihat kiri-kanan, medengarkan masukan dari berbagai sumber, sehingga mendapatkan sudut pandang yang lebih luas. “Ketika semua membawa palu,” tulis Epstein, “maka semua yang di depan mereka akan tampak sebagai paku.”

