
Di Jepang dalam rangka mengefisienkan tempat penyimpanan, pengantaran, dan penjualan, maka dilakukan inovasi mengubah bentuk semangka menjadi kotak. Kemudian saya bertanya ke Prof. Budi S. Daryono, Dekan Fakultas Biologi UGM yang terkenal dengan julukan Profesor melon karena inovasinya yang menghasilkan aneka bentuk & ukuran buah melon.
Beliau berujar kalau 5 tahun yll sudah pernah dicoba inovasi itu, teknologi siap, tapi pasar tidak bisa menyerap kenaikan harga sampai 5x. Saya termenung mendengar jawaban ini. Pencerahan yang saya dapat adalah inovasi ditentukan oleh pasar, bukan talent atau teknologi.
Kemudian saya kaitkan hal ini dengan laporan Indeks Kekayaan Intelektual 2019 dari Global Innovation Policy Center yang menempatkan Jepang di urutan pertama, Indonesia ke-45 dari 50 negara yang disurvei. Bersama Indonesia antara lain Vietnam (43) dan Pakistan (47).
Tapi kembali pada teori bahwa pada akhirnya pasar atau daya beli yang menentukan inovasi, maka peringkat Indeks Kekayaan Intelektual tsb bisa sepenuhnya dipahami. Yang saya khawatirkan dalam jangka panjang peringkat tsb tidak akan berubah secara signifikan.
