
Siang itu saya membaca beberapa proposal usaha rintisan dari Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Bersama dengan Indonesia, 3 negara tsb tergabung dalam jaringan kerjasama inkubator bisnis Asean. Salah satu programnya adalah pertukaran usaha rintisan untuk diinkubasi di negara tetangga masing-masing.
Ada 6 usaha rintisan yang ingin diinkubasi di Indonesia, dan sebagai salah satu inkubator yang ditunjuk kami harus memilih minimal satu usaha rintisan untuk diberikan pendampingan selama 3 bulan.
Ada 2 pelajaran yang saya catat untuk diteruskan kepada pengusaha rintisan di negeri kita. Pertama, para pengusaha rintisan dari negara tetangga tsb ternyata sejak awal sudah punya tujuan untuk mengekspor produk atau jasanya. Dan negara yang dipilih sebagai pasar adalah negara kita, artinya kita ini dipandang sebagai tetangga yang seksi dan menarik hati bagi negara tsb.
Alasan mereka kenapa memilih Indonesia bukan negara lain bisa dibaca dalam teks berikut yang saya kutip dari proposal mereka. Usaha rintisan ini berasal dari Malaysia menawarkan platform digital yang mengintegrasikan pelaku usaha pertanian mulai dari petani, pedagang, bank, atau investor dalam satu ekosistem usaha pertanian.
Ada lagi usaha rintisan dari Thailand yang memproduksi nutrisi untuk pasien penyakit diabet, ginjal, dll. Usaha ini pun mencanangkan programnya selama di Indonesia nanti adalah memetakan potensi pasar, menentukan jalur pemasaran, dan mencari mitra distributor di Indonesia.
Sudah saatnya usaha rintisan di Indonesia juga berorientasi ekspor sejak awal.
