Januari 23, 2020, wabah corona telah menewaskan 17 warga China, 500 lainnya positif terinfeksi. Pemerintah mengambil tindakan cepat dan keras. Pusat gempa Corona di Wuhan langsung dikunci (lockdown), akses keluar-masuk dilarang, transportasi publik, sekolah, dan tempat keramaian ditutup, warga diminta tinggal di rumah. Tidak ada sosialisasi dan tidak ada kompromi. Patroli selama 24 jam akan mengawasi kalau ada warga keluar rumah tanpa alasan yang diperbolehkan, langsung dipaksa masuk rumah lagi.
Logika pemerintah China simpel, bertempur habis-habisan di 1 kota lebih mudah daripada bertempur di beberapa kota. Itulah sebabnya di Wuhan langsung dibangun 2 RS khusus Corona dalam waktu 2 minggu dan 40k tenaga medis dari berbagai kota dikirim ke Wuhan.
Korsel menempuh strategi lain dalam bertempur melawan Corona. Tidak mengandalkan kekuasaan, tapi teknologi dan data. Langkah pertama adalah segera menemukan siapa dan di mana warga Korsel yang positif terinfeksi Covid-19. Caranya tidak dengan bertanya tapi melakukan uji klinis sebanyak-banyaknya. Dalam hitungan minggu 210k warga Korsel sudah dites. Bandingkan dengan AS yang 9k atau Indonesia (waktu itu) baru mencapai 1000-an.
Kemudian yang positif terinfeksi ditelusuri kontak dengan siapa saja selama 2 minggu terakhir. Sekali lagi tidak ditanya, tapi dilihat histori percakapan di ponsel dan ditelusuri transaksi kartu kredit mereka. Yang positif, langsung dirawat di RS. Sedangan kontak mereka disolasi di rumah dengan diawasi teknologi GPS. Kalau sampai keluar rumah, sanksi denda ekuivalen Rp120 jt dikenakan.
China dan Korsel adalah kisah sukses memerangi Corona dari Asia. Kunci keberhasilan mereka adalah pada pilihan strategi yang tepat dengan dukungan sistem yang menjamin terlaksananya strategi tsb dalam bentuk kekuasaan, teknologi, data, dan sanksi yang tegas.
