Pelajaran lain bagi perusahaan dalam masa pandemik ini adalah bagaimana kiat menyampaikan kabar buruk kepada karyawan agar mereka tidak saja memahami situasi yang dihadapi saat ini, tetapi juga tergugah untuk berperan serta membantu perusahaan sesuai kapasitasnya.
Seperti kita ketahui pandemik Covid-19 telah memukul hampir semua sektor usaha. Sehingga bagi perusahaan kebijakan yang diambil untuk merespon keadaan tsb pasti ada “kabar buruknya” bagi karyawan apakah itu namanya efisiensi, penghematan, pemotongan gaji, bahkan sampai PHK. Kabar buruk ini mau tak mau harus disampaikan kepada karyawan. Di sinilah tantangannya.
Soal kiat komunikasi ini saya ingat formula dari perusahaan konsultansi McKinsey. Tiap laporan konsultansi McKinsey terdiri atas 3 bagian: (1) uraian tentang situasi terkini; (2) tantangan atau masalah yang dihadapi; dan (3) resolusi atau kebijakan yang harus diambil.
Selain format komunikasi tsb, hal lain yang harus dilakukan adalah kita bisa merujuk Aristoteles 2000 dalam risalahnya tentang logika dan retorika. Intinya adalah suatu komunikasi tidak saja harus logis urutan idenya, tetapi juga harus “mengaduk-aduk” emosi audiens agar mereka mau menerima “kabar buruk” tsb dengan legowo. Untuk itu seorang komunikator harus kredibel atau dipercaya dulu oleh audiens bahwa semua yang disampaikan memang benar, logis, dan menyentuh hatinya. Tidak gampang memang, tapi itulah seninya.
