
Alkisah hiduplah seorang pangeran yang tampan tapi malang nasibnya. Demikian pembukaan dongeng Brian Tracy. Kemalangan sang pangeran adalah karena dia dikutuk oleh nenek sihir menjadi seekor katak. Akan tetapi menurut nenek sihir, kutukan sang pangeran akan berakhir apabila ada puteri cantik yang mau menciumnya.
Alkisah lagi, nun jauh di sana ada seorang puteri cantik yang sedang berjalan-jalan sendirian di hutan. Tidak usah ditanya kok berani? Singkat cerita, sang puteri melihat seekor katak di tengah hutan tsb. Dan si katak cukup ramah sekaligus “cerdas” karena mengetahui ada sesuatu yang dipikirkan sang puteri cantik.
Kepadanya, katak bertanya apakah gerangan yang dipikirkannya sehingga wajahnya muram. Kaget ada katak bisa bicara, puteri memutuskan untuk menjawab sekaligus curhat bahwa yang dipikirkannya adalah bagaimana mendapatkan jodoh seorang pangeran yang tampan. Karena meski sudah melakukan “fit & proper test” secara masif, terencana, & terstruktur, ternyata usahanya masih nihil.
Pucuk dicinta ulam tiba, pikir katak dan kali ini ganti dia yang curhat dengan menceritakan kalau sejatinya dirinya adalah pangeran yang tampan. Karena kutukan nenek sihirlah dirinya berubah menjadi katak. Tak lupa dia mengajukan “penawaran yang tak bisa ditolak”, yaitu apabila sang puteri mau menciumnya, maka setelah berubah menjadi pangeran yang tampan, dia akan menyuntingnya. Akhir cerita bisa ditebak terangkum dalam ungkapan: Finally, they live happily ever after…
Moral cerita adalah untuk mewujudkan impian perlu mengatasi keraguan, melakukan yang belum pernah dilakukan, dan menghadapi risiko. Hal ini juga dihadapi para pelaku usaha di masa pandemi. Bertahan dengan model bisnis lama yang sudah tidak relevan, hanya akan menunda kekalahan. Mengambil inisiatif baru belum tentu berhasil, ada risiko, keraguan, tapi itu semua adalah katak yang harus dicium demi mendapatkan pangeran yang tampan atau puteri yang cantik.
