
Dengan penuh perhatian sekelompok mahasiswa mendengarkan penjelasan seorang barista perihal aneka macam teknik menyeduh kopi dengan berbagai metode: V60, aeropress, Vietnam drip, & chemex. Tiap kali penjelasan mengenai teknik seduh usai, barista kemudian menyajikan kopi dalam gelas kecil-kecil dan mempersilakan para mahasiswa untuk menikmatinya. Setelah semua teknik seduh dijelaskan & dihidangkan, barista menanyakan kepada para mahasiswa apakah mereka dapat merasakan perbedaan aneka teknik seduh tsb pada kopi yang mereka minum?
Pendapat yang beragam juga muncul dari para mahasiswa. Ada yang bisa dengan rinci merasakan & mengungkapkan perbedaan rasa kopi dari teknik seduh yang berbeda, tapi ada juga yang tidak bisa membedakan sama sekali. Para mahasiswa tampaknya masih tertarik dengan aneka teknik seduh kopi tsb, sehingga mereka terus bertanya seluk-beluk teknik seduh kopi. Dengan sabar barista menjawab semua pertanyaan para mahasiswa. Setelah tidak ada lagi mahasiswa yang bertanya, barista berpesan kepada para mahasiswa, “Bagi seorang barista yang paling penting bukan pengetahuannya tentang aneka teknik menyeduh kopi, tapi kemampuannya menjalin komunikasi dari hati ke hati dengan kliennya melalui secangkir kopi yang dihidangkannya…”
Kali ini giliran para mahasiswa termenung mencerna kata-kata barista yang mirip puisi Rumi.
