
Mungkin karena kalah dengan ingar-bingar berita politik menjelang pilpres & pileg, maka gelaran Indonesia Startup Summit di Jiexpo Kemayoran sepi dari pemberitaan. Tahun ini ISS diikuti oleh 61 usaha rintisan se Indonesia yang di kelompokkan ke dalam PPBT (Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi). Acara dibuka oleh Menristekdikti berlangsung dari tanggal 10 – 13 April 2019.
Padahal kita bisa melihat ide para pengusaha rintisan yang rata-rata generasi milenial tsb sebagai “orasi politik” dalam format alternatif. Tidak ingar-bingar atau iruk-pikuk seperti para politisi senior, tetapi dalam senyap mereka tetap menyampaikan pesan “politik” yang yang sarat makna.
Contoh, politisi senior berpidato berapi-api tentang “setop impor”; tapi apakah mereka menjabarkan dengan jelas. Kalau tidak mau impor, konsekuensinya kita harus membuat produk itu sendiri. Sekarang kita lihat salah satu usaha rintisan binaan Gama Multi yang ditampilkan di ajang ISS 2019, yaitu Vitasoil Asam Humat, produk ini mengolah kotoran kelelawar menjadi pupuk organik asam humat cair bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas & kesuburan tanah. Ini yang saya maksudkan orasi politik dalam senyap, melalui perbuatan nyata dengan membuat usaha rintisan untuk mengurangi impor.
Contoh lain, isu yang seksi juga dalam orasi politik adalah soal “meningkatkan kesejahteraan rakyat”. Bagaimana caranya? Mari kita belajar ke Griya Cokelat Nglanggeran, yang pernah saya ulas sebelumnya. Usaha rintisan ini juga binaan Gama Multi yang tampil di ISS 2019, mengolah kebun rakyat kakao menjadi aneka sajian produk cokelat sehingga meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Dua usaha rintisan itu memberi contoh bahwa ternyata “orasi politik” bisa disampaikan dalam senyap tanpa ingar-bingar, namun tetap sarat pesan yang dalam. Dan kuncinya adalah pembelajaran yang sedang tren saat ini yaitu “reverse learning”: para senior belajarlah kepada para milenial yang membangun usaha rintisan tsb.
