
Wisdom of Finance ditulis oleh Mihir Desai, gurubesar di Harvard Business School. Buku ini berasal dari tradisi kuliah di HBS yang menugaskan dosen pengampu kuliah agar di akhir kuliah memberikan paparan perihal apa manfaat kuliah yang diajarkannya bagi kemanusiaan.
Dan Mihir Desai menunaikan tugas itu dengan sempurna. Wisdom of Finance menjadi istimewa karena unik. Buku keuangan umumnya akan menggunakan matematika, statistika, atau kalkulus untuk menjelaskan konsep nilai, risiko, atau alokasi portofolio. Tetapi Wisdom of Finance menggunakan karya sastra, filsafat dan agama untuk menjelaskan konsep keuangan yang rumit-rumit tadi.
Ambil contoh konsep tentang “nilai” dalam keuangan. Kita pakai kasus Twitter saat go public 2013, dalam kondisi merugi, perusahaan tsb mencapai valuasi $ AS 24 miliar. Sebaliknya koran cetak New York Times yang berpenghasilan $ AS 133 juta/tahun, hanya dihargai $ AS 2 miliar, pada tahun yang sama. Lo, bagaimana mungkin perusahaan yang merugi nilainya malah 12x lebih mahal dibanding perusahaan yang menghasilkan keuntungan?
Di sinilah konsep future value berlaku. Twitter diukur dari nilai “sekarang” minus, tetapi dalam jangka panjang (5 atau 10 tahun lagi) diprediksi akan konsisten menghasilkan arus kas yang nilainya akan mencapai $ AS 24 miliar. Sebaliknya koran cetak diramalkan akan surut bisnisnya di masa depan, sehingga investor hanya menghargai $ AS 2 miliar.
Tetapi konsep future value ini juga diutamakan dalam ajaran agama. Bahwa kelak kita akan “dihisab”, ditimbang berdasarkan amalan baik dan buruk berapakah “nilai” kita di masa yang akan datang? Atau ajaran lain yang mengingatkan kita supaya “tidak mengorbankan kehidupan akhirat demi kehidupan dunia”. Prinsipnya sama nilai perusahaan atau “hamba Allah” didasarkan pada konsep future value.
Itulah sebabnya dalam Bab tentang Nilai, Wisdom of Finance, diakhiri dengan kalimat tanya yang menghunjam: Sudahkah kita siapkan akhirat kita seperti konsep ilmu keuangan?
#wisdom #finance #futurevalue
