
Diskusi dengan Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (BPUDL) ITB
Buku Stephen R. Covey The 3rd Alternative berbicara tentang bagaimana kita menyikapi perbedaan pandangan, pendapat, atau paham untuk bersama-sama mencari dan menemukan alternatif ke-3 melalui proses sinergi. Buku ini sangat relevan untuk situasi terkini di negara kita yang baru saja menyelenggarakan pemilu pipres dan pileg yang ditandai dengan perbedaan pilihan di masyarakat yang sangat tajam.
Tapi Covey sejak dini sudah mengingatkan supaya kita tidak terjebak pada “pemikiran 2 alternatif” yang meletakkan perbedaan pilihan dalam kerangka kompetisi. Bahwa ‘ide saya” lebih baik dari “idenya”. Bahkan pemikiran 2 alternatif sering tidak bisa membedakan antara “idenya” dengan “dirinya”. Sehingga menentang idenya sering diartikan juga dengan “menyingkirkan” dirinya.
Ada 3 tahap untuk mencapai alternatif ke-3 dari suatu perbedaan pendapat atau pandangan. Pertama, terimalah & hormatilah perbedaan. Kedua, saling bertanya, belajar, dan mendengarkan. Ketiga, bersinergilah untuk mencari alternatif ke-3 yang lebih baik dari sebelumnya.
Saya pun mencoba menerapkan paham alternatif ke-3 ini saat menerima kunjungan Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (BPUDL) ITB. Di ITB unit usaha berada dalam satu badan di bawah rektor dan dikelola oleh staf akademis, bukan profesional dari luar. Tapi dalam kesempatan berdiskusi kami saling menghormati perbedaan “model bisnis” yang ada. Kami juga saling bertanya dan belajar, dan berbagi pengalaman. Kemudian kami menemukan kebaikan apa saja yang bisa kami ambil dari model tsb untuk diterapkan di model kami. Manfaat ini tentu tidak akan kami dapatkan kalau kami menggunakan “pemikiran 2 alternatif” bahwa model ITB lebih baik dari UGM atau sebaliknya.
We may have different religions, different languages, different colored skin, but we all belong to one human race. — Kofi Annan
