
Topik ini tiba-tiba saja mengemuka saat kami mewawancarai seorang mahasiswi prodi pariwisata, sebut saja namanya Melati. Kepadanya saya bertanya apakah dia punya ide yang unik, lain dari yang lain, tentang paket wisata. Lalu dengan spontan dia menyebutkan, “Dark tourism”.
Jawabannya membuat saya sedikit “njenggirat” karena belum pernah mendengar dan saya minta dia menjabarkannya.
“Jadi begini pak, dark tourism artinya kita mengunjungi spot-spot yang dikenal angker.”
“Ha, memang ada spot-spot itu dan ada peminatnya?”
“Ada, pak. Pertama, kita tentukan spot-spot angker yang memang ngehit, terus kita bertemu di satu titik kumpul jam 12 malam kemudian berjalan kaki menuju spot-spot tersebut sambil mendengarkan narasi keangkeran dari tour guide.”
Sampai di sini, saya tambah penasaran karena baru tahu ada peringkat spot keangkeran seperti halnya level kepedasan sambal. Dan ya itu tadi, ada peminatnya. Bahasa pemasarannya ada “potential customers.”
“La, terus apa yang dinikmati para wisatawan?” tanya saya.
“Sensasi mistis, yang tidak didapatkan di destinasi wisata lainnya,” jawab Melati percaya diri.
“Seperti apa sensasi mistis itu?”
Kali ini Melati menggunakan gerak tangannya untuk menjelaskan, “Coba bayangkan, kita berjalan jam 12 malam ditemani kesunyian tengah malam, dingin angin malam, dan cerita keangkeran dari guide. Lalu setibanya di spot yang pertama, guide akan bercerita tentang penghuni spot tsb, sebut saja namanya Bunga, dan ketika namanya disebut tiba-tiba saja Bapak akan mencium aroma parfum yang harum yang berbeda dengan harum parfum yang pernah bapak kenal…”
Saat menjelaskan ini, saya lihat mata Melati agak terpejam, kriyip-kriyip, bahasa jawanya. Sehingga saya juga ikut “kriyip-kriyip” karena menahan kantuk di siang hari.
Kemudian saya bertanya lagi, “Tapi apakah kamu pernah menjual paket wisata tsb?”
“Pernah pak, diikuti 20 peserta, karena kita memang membatasi peserta. Kalau terlalu banyak, tidak mistis lagi suasananya” jawab Melati lantang.
“Ha, bagaimana cara mempromosikannya?” tanya saya heran.
“Biasa pak, pakai poster dan media sosial dengan head line Dark Tourism.”
“Berapa harga jual tiketnya?”
“Karena segmen mahasiswa jadi Rp20k pak.”
“Kalau untuk kelas “menegah-ke atas” apa bisa dijual lebih mahal?”
“Bisa pak!”
“Kamu kok yakin sekali?”
Kali ini, Melati sedikit mencondongkan badan ke depan dan setengah berbisik, “Masyarakat kita seneng dengan yang mistis-mistis pak…”
Oh…, saya manggut-manggut mendengar jawaban Melati dan tiba-tiba saja saya mencium harum parfum yang belum pernah saya kenal…
Tapi ngomong-ngomong apakah Anda berminat mengikuti paket Dark Tourism untuk reunian misalnya biar tidak mainstream…??
