
Acara pembukaan bimtek (bimbingan teknis) semalam dengan topik penanganan pasca-panen produk hortikultura untuk menembus pasar ekspor diwarnai dengan “curhat” para eksportir. Acara ini inisiatif Ditjen Hortikultura, Kementrian Pertanian bekerja sama dengan Fak. Pertanian & Fak. Teknologi Pertanian UGM. Curhat dimulai setelah sambutan-sambutan, mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan harapan atas kegiatan bimtek ini atau kendala yang mereka jumpai dalam menjalankan bisnis ekspor hortikultura.
Begitu MC menyilakan peserta untuk mengangkat tangan, beberapa peserta spontan mengangkat tangan. Kemudian peserta pertama menyampaikan harapan dengan penuh semangat, “Tolong pak, kami jangan dikasih teori-teori, tapi langsung saja teknik yang praktis. Misalnya bagaimana caranya supaya brokoli yang kita ekspor sampai Dubai tetap berwarna ijo, seger, tidak kuning, layu?”
Ada juga yang mengharapkan kehadiran negara dalam menambah kuota ekspor hortikultura. Tanyaannya adalah: Mengapa kuota ekspor buah kita ke China hanya terbuka untuk 5 jenis buah? Sedangkan Malaysia mendapatkan 15 jenis buah, Thailand, 27 jenis buah? Katanya kita negara besar, macan Asia?
Menghadapi suasana “hangat” ini, beruntung di samping saya duduk Pak Dekan Pertanian UGM yang bisa menenangkan peserta dengan mengatakan bahwa jangan kawatir bimtek akan menghadirkan narsum Bu Dekan Teknologi Pertanian yang punya teknologi untuk memperpanjang masa simpan sayur dan buah-buahan; sedangkan untuk kehadiran negara ranah Ditjen Hortikultura.
