
Pertemuan kami bertiga semula untuk membahas rencana kolaborasi untuk menawarkan solusi terpadu ke rumah sakit. Pihak pertama adalah perusahaan perangkat keras (server/PC) yang melayani segmen RS, pihak kedua adalah perusahaan distributor alat kesehatan; sedangkan kami berperan sebagai pengembang perangkat lunak untuk manajemen RS.
Seusai bahasan utama, topik beralih ke kemajuan teknologi dalam layanan kesehatan. Dimulai dari paparan oleh perusahaan perangkat keras yang menyampaikan penggunaan kecerdasan buatan dalam mendiagnosis penyakit di rumah sakit di Singapura.
Prinsip kerja kecerdasan buatan adalah mengolah data di masa lalu, menganalisis, kemudian menemukan pola dari data yang dianalisis untuk memprediksi pola yang akan muncul. Kecerdasan buatan (AI) tidak menggantikan peran dokter, tetapi membantu dokter melakukan diagnosis penyakit dengan cepat dan akurat. Riset yang dikutip dari kasus diagnosis penyakit TBC, diagnosis hanya perlu waktu hitungan detik dengan akurasi 96%.
Tapi ada syarat agar AI bisa digunakan dalam mendiagnosis penyakit yaitu adanya data (big data) yang mencukupi secara kuantitaif, kualitatif, kemudian ada pakar yang bisa mengambil data yang representatif, kemudian menemukan pola yang ada (data scientist). Di sinilah ketertinggalan kita karena mungkin kita belum punya data yang diperlukan tsb spy bisa diolah dan dianalisis. Oleh sebab itu ketika saya tanya, “Apakah sudah ada RS di Indonesia yang menggunakan AI?”
Perwakilan dari perusahaan perangkat keras yang berbicara melalui tele-conference, menjawab, “Belum ada.”
