
Tanggal 25 Februari 2020, tercatat 390 warga Italia positif terinfeksi Covid-19. Kehidupan di Italia berjalan seperti biasanya, sekali pun dilakukan “partial lockdown”. Tapi pusat keramaian masih buka seperti biasa. Dari Milan, kota pusat mode dunia, seorang ketum parpol menyerukan agar rakyat Italia tidak usah “mengubah kebiasannya” di tengah wabah Covid-19.
Yang dimaksud “kebiasaan Italia” adalah pagi, capuccino; siang, gelato/pizza; malam, bar, fine dining resto. Semua penuh sesak sampai antri-antri. Keadaan berubah cepat, 8/3 tercatat 7.375 positif covid-19. Sehari kemudian PM Conte mengambil kebijakan drastis total lockdown seluruh Italia. Kebijakan ini menimbulkan kepanikan luar biasa, dan angka positif covid-19 sudah mencapai 9.172.
Keadaan sudah sangat terlambat, faskes dan tenaga medis yang melayani pasien covid-19 kewalahan karena kurva tambahan pasien baru yang ekstrim runcingnya. Lalu terjadilah tragedi kemanusiaan yang memilukan, para dokter harus memilih karena keterbatasan kapasitas perawatan siapa pasien yang dilayaninya dan siapa pasien yang ditolak. Seorang dokter menceritakan dengan menahan kesedihan ketika dia harus memilih 1 di antara 2 pasien covid-19 untuk dirawat: pemuda 25th, yang setahun ini menganggur atau dokter berusia 60 th?
Jurnalis Mattia Ferraresi menuliskan pesan yang memilukan tentang tragedi Covid-19 di Italia dalam artikel berjudul “Don’t Do What We Did”. Tragedi pilu di Italia menurutnya karena pesan yang simpang-siur dari politisi, dan keterlambatan mengambil tindakan cepat dan tegas untuk membatasi pergerakan antar-manusia serta kerumunan di luar rumah. Pesan itu disampaikannya untuk negara Spanyol, Jerman, Perancis, dan AS yang disebutnya ada “di urutan” berikutnya setelah Italia.
