Kisah berikut, pasti terjadi juga dengan semua dokter di seluruh dunia. Mereka berada di garis terdepan mengatasi wabah Covid-19 dengan mempertaruhkan keselamatan dirinya dan keluarganya di rumah. Kisah pilu seorang dokter di Wuhan yang dimuat di WSJ berikut ini semoga meningkatkan kesadaran kita untuk membantu perjuangan para dokter mengatasi wabah Covid-19 dengan cara menaati aturan yang sudah diserukan oleh pemerintah.
Kisah dimulai dari kehidupan seorang radiolog di Wuhan, Dr. Zhang Xiaochun, 39, setelah pemerintah menetapkan lockdown. Suami dokter Zhang bertugas di luar kota sehingga tidak bisa pulang ke Wuhan. Dr. Zhang memutuskan tinggal di hotel agar tidak membahayakan keluarganya di rumah yaitu anak perempuannya, 9 th dan kedua orangtuanya berusia 70-an.
Kepiluan dimulai suatu malam setiba di kamar hotelnya, dr. Zhang menerima telpon dari ibunya yang mengeluhkan tidak enak badan. Keluhan yang sama juga disampaikan oleh ayahnya. “Feeling” seorang radiolog membuatnya merasa tidak enak dan dimintanya agar kedua orangtuanya memeriksakan di di rumah sakit keesokan harinya.
Hasil tes lab negatif. Tapi “feeling” dr. Zang berbeda pendapat dari melihat hasil CT scan paru-paru. Masalahnya saat itu standar yang dipakai di RS China adalah tes lab. Sehingga orangtua dr. Zhang dipersilakan pulang. Memohon-mohon dr. Zhang menghadap ke direktur RS, agar orangtuanya diperbolehkan dirawat di RS. Setelah larut malam baru permohanannya diijinkan.
Dari RS dr. Zhang bergegas pulang menegok anaknya yang didapatinya tertidur di sofa. Setelah membuatkan makanan untuk anaknya yang seharian belum makan, dr. Zhang bersiap kembali ke hotelnya. Anaknya sempat menahannya, sambil bertanya, “Mengapa mama bekerja seharian?”
DR. Zhang menjawab lirih,”Mama ingin melihat kamu tumbuh dewasa, nak.”
“Mama wanita yang tegar, aku ingin seperti mama.” Pujian anak semata wayangnya ini membuat dr. Zhang tersekat, tapi dia tetap tersenyum sambil menahan airmatanya yang mau menitik.

