Salah satu perilaku warga yang sangat dianjurkan di masa pandemik Covid-19 adalah tinggal di rumah aja. Saat tinggal di rumah kegiatan yang bisa kita lakukan antara lain bersih-bersih rumah. Itulah yang saya lakukan dengan memeriksa arsip lama mana yang sudah bisa dimusnahkan.
Saat melihat-lihat arsip lama itulah, saya menemukan berbagai dokumen, arsip yang merekam kejadian beberapa tahun yang lalu. Ada memo penugasan, sertifikat pelatihan, piagam penghargaan, foto-foto yang menyertainya, dll. Melihat semua itu, seraya mengenangkan kejadiannya, kemudian saya bertanya pada diri sendiri: Apa artinya masa lalu dari perspektif sekarang?
Tidak ada, kiranya. What has gone, has gone forever. Di sinilah kita kemudian menyadari betapa berharganya sekarang. Karena inilah satu-satunya “harta tak ternilai” yang kita miliki. Masa lalu sudah lewat, masa depan kita tidak bisa genggam 100%. Bahkan apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan sebagian masa depan kita.
Ironinya saat kita sadar betapa bernilainya sekarang, saat yang sama kita sadari juga betapa besarnya godaan untuk tidak sepenuhnya hadir di saat sekarang itu. Di ruang rapat, peserta akan mengalihkan perhatiannya ke layar ponsel bila tidak gilirannya bicara. Demikian pula dengan percakapan pribadi, semakin sulit rasanya memberikan perhatian penuh pada apa yang kita lakukan sekarang.
Saat tinggal di rumah itu, saya jadi paham kebenaran pesan praktisi meditasi dari Vietnam Thich Nhat Hanh, “Saat kita tidak hadir di momen sekarang; sejatinya kita telah mengingkari perjanjian kita dengan kehidupan. Dan ini masalah sangat serius…”
