Krisis selalu melahirkan kesadaran baru. Seperti saat pandemik Covid-19 ini tiba-tiba kita tersadar bahwa untuk mendapatkan alat tes, reagen, serta ventilator semua harus diimpor. Dan keadaan menjadi sulit karena semua negara berebut untuk mengimpornya.
Faktanya tidak hanya alat kesehatan yang terkait dengan penanganan Covid-19 yang harus kita impor. Menurut seorang importir alkes, 90% alkes masih kita impor.
Untuk mendalami hal ini, saya bertanya pada teman yang berkecimpung dalam usaha alat kesehatan ini.
“Apa saja alkes yang kita impor?”
“Banyak pak, mulai dari yang padat teknologi seperti ventilator, alat hemodialisis, mesin anestesi, sampai yang sederhana alat infus.”
“La, alat infus kok impor?”
“Kita tidak punya bahan bakunya.”
“Bahan bakunya kan karet atau elastis. Kita produsen karet alam terbesar.”
“Lain pak, ini harus yang medical grade.”
“Terus kita impor dari mana?””Korsel, Jepang, China.”
“Mereka dapat karet alamnya dari mana?”
“Indonesia, Malaysia.”
Sampai di sini kita sedikit “tercerahkan”, kenapa alkes kita 90% impor, salah satunya karena lemahnya industri antara atau komponen tadi. Tapi ini juga satu persoalan yang tidak sederhana. Pengusaha pasti punya hitung-hitungan sendiri kenapa tidak mengolah karet alam sampai berkualitas “medical grade” sehingga bisa jadi bahan baku alat infus, dll.
